SEKILAS INFO
: - Selasa, 26-10-2021
  • 3 tahun yang lalu / Website SD Plus Muhammadiyah Kota Sungai Penuh ini masih dalam tahap konstruksi serta pengembangan, akan diluncurkan secara resmi pada awal Januari 2021
  • 4 tahun yang lalu / Website ini adalah media komunikasi dan berbagi informasi kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat kota Sungai Penuh dan kabupaten Kerinci
Peran Strategis Pendidikan Dalam Menyongsong Era Teknologi 4.0

Sekarang ini kita hidup dalam dunia yang terbuka, dunia tanpa batas, dimana antar orang mudah untuk melakukan interaksi dan komunikasi, yang menyebabkan batas tidak terlihat jelas, dunia terasa semakin menyempit. Hal ini muncul karena adanya fenomena globalisasi yang membuat sebuah kehidupan global. Fenomena yang membuka peluang-peluang baru dalam upaya membangun dan meningkatkan taraf hidup masyarakat dan bangsa.

Dalam kehidupan global di era revolusi industri 4.0 memerlukan manusia-manusia yang memiliki kualitas handal, kreatif, dan berinovasi. Karena pada dasarnya keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusianya.[4] Manusia yang berkualitas dalam hal ini manusia yang memiliki daya saing positif. Untuk mampu bersaing diperlukan kualitas individu, sehingga nantinya bisa mengahasilkan sebuah karya atau produk yang dapat berkompetisi, berarti mendorong ke arah kualitas yang yang semakin meningkat.

Perkembangan trend dunia pendidikan abad ke-21 lebih berorientasi pada perkembangan potensi manusia, bukannya memusatkan pada kemampuan teknikal dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi alam sebagaimana abad sebelumnya.[5] Dengan begitu, masa yang akan mendatang kehidupan manusia akan sulit untuk diramalkan karena akan terjadi berbagai bentuk inovasi yang tidak terduga, baik dalam aspek yang positif maupun negatif.

Untuk merespon revolusi industri 4.0 di abad 21 Indonesia tergolong lambat dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sistem pendidikan 4.0 di Indonesia baru dipopulerkan pada tahun 2018. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai dalam menyongsong era pendidikan 4.0. Nantinya dalam proses pendidikan dan pengajaran akan menghasilkan output dan outcome yang memiliki imajinasi dan karakter yang tinggi.

Sebagai acuan terdepan dalam dunia pendidikan, pendidik harus meng-upgrade kompetensi dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Boleh dikatakan bahwa, pendidik merupakan aktor utama terjadinya perubahan di masyarakat, pendidik juga merupakan kreator kader-kader masa depan yang akan mewarnai peradaban manusia. Dalam hal ini, peserta didik yang dihadapi pendidik saat ini merupakan generasi milenial yang tidak asing dengan dunia digital. Peserta didik yang sudah terbiasa dengan arus informasi dan teknologi industri 4.0, hal ini menunjukkan bahwa produk sekolah yang diluluskan harus mampu menjawab tantangan industri 4.0. Namun pada kenyataannya, semakin pesatnya arus teknologi justru peserta didik semakin terlena dan memilih sikap enggan bertanggung jawab, kemerosotan moral, dan meningkatnya kasus kejahatan pada siswa. Dengan adanya media sosial yang mempermudah dalam mengakses informasi dan komunikasi mengakibatkan maraknya kejahatan di dunia online. Hal ini bisa dikarenakan karena kurangnya pendidikan nilai dan tantangan bagi pendidik untuk menguatkan karakter peserta didik agar tidak terjerumus dan terlena dengan pesatnya teknologi industri 4.0.

Mengingat berbagai tantangan tersebut yang harus dihadapi pendidik, maka pendidik harus belajar meningkatkan kompetensi dan kualitas pengajaran sehingga mampu menghadapi peserta didik generasi milenial. Dengan hadirnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, setidaknya memberikan arti yang sangat besar bagi peningkatan kualitas guru.[6] Karena pada dasarnya era pendidikan 4.0 merupakan tantangan yang sangat berat dihadapi pendidik, dimana pendidik harus mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia adalah dilakukan dengan penggunaan teknologi pendidikan serta menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat.[7] Untuk kepentingan ini, diperlukan perubahan yang mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Perubahan mendasar ini terkait dengan kebijakan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mensyaratkan berbagai perubahan pada komponen pendidikan. Kurikulum merupakan acuan yang digunakan dalam pembelajaran dan pelatihan dalam pendidikan dan/atau pelatihan yang dalam pengembangannya melibatkan pemikiran secara filsafati, psikologi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.[8] Kurikulum ini harus mampu mengarah dan membentuk siswa yang siap menghadapi era revolusi industri dengan penekanan pada bidang Science, Technoligy, Engineering, dan Mathematics (STEM). Reorientasi pengembangan kurikulum harus mengacu pada pembelajaran berbasis TIK, internet of thing, big data dan komputerisasi, serta kewirausahaan.

Selain dilakukan berbagai kebijakan dalam kurikulum pendidikan Indonesia, aktualisasi penggunaan teknologi pendidikan untuk mengikuti alur revolusi sangat dibutuhkan. Teknologi pendidikan sendiri merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, tenik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar manusia.[9] Namun dlaam hal ini yang tetap diutamakan proses belajar disamping alat-alat yang dapat membantu proses belajar itu. Jadi teknologi pendidikan ini berkaitan dengan software dan hardwarenya, yang nantinya peserta didik harus menjadi lulusan yang handal dengan mempunyai kompetensi yang unggul dalam bidang teknologi untuk menjawab perkembangan zaman.

Sebagaimana yang telah dipahami diawal, peran seorang pendidik adalah untuk mempersiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang aktif, sukses, dan berkontribusi. Namun, ada perubahan penting yang harus diperhatikan, sesuai era revolusi masyarakat mulai berubah. Sehingga tanggung jawab sekolah dan pendidik adalah menyiapkan peserta didik agar mampu berkompetensi, berkontribusi, dan memainkan peran mereka di tengah-tengah komunitas global. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan pendidik di Indonesia dalam memutuskan bagaimana pendidikan dan pembelajaran diselenggarakan.

1) Pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning)

Dengan proses pembelajaran yang dipusatkan pada siswa disini sumber utama informasi pengetahuan bukan lagi hanya guru, tetapi siswa bisa mengakses informasi lain terkait dengan topik yang dipelajari. Agar mampu berkompetisi dan berkontribusi pada masyarakat global si masa datang, siswa harus dapat memperoleh informasi baru ketika masalah muncul. Kemudian mereka perlu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah mereka miliki dan menerapkannya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Dalam hal ini pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator, peserta didik hanya mengumpulkan informasi sendiri, dibawah bimbingan pendidik. Pendidik harus bisa mengakomodasikan gaya belajar dari peserta didik, karena dengan hal itu motivasi belajar dan tanggung jawab peserta didik akan semakin meningkat. Dimana peserta didik akan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, serta dengan menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara. Belajar iitu tentang penemuan, bukan lagi menghafal fakta yang sudah ada.

2) Kolaborasi

Peserta didik didorong utuk bekerja sama dalam menemukan informasi, mengumpulkannya, membangun makna. Peserta didik harus belajar berkolaborasi dengan yang lainnya, ini dikarenakan masyarakat pada saat ini memiliki jaringan yang luas tanpa adanya hambatan untuk berkolaborasi bahkan diseluruh dunia. Bagaimana nantinya peserta didik dapat diharapkan untuk bekerjasama dengan orang-orang dari budaya lain, dengan nilai-nilai yang berbeda dari mereka sendiri. Sekolahh harus berkolaborasi dengan lembaga pendidikan lain di seluruh dunia untuk berbagai informasi dan belajar tentang berbgai praktik atau metode yang telah dikembangkan. Pendidik harus bersedia mengubah metode pengajaran yang mereka lakukan mengingat perkembangan teknologi yang semakin melaju pesat.

3) Meaningful learning

Dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa tidak berati bahwa pendidik sepenuhnya menyerahkan semua kendali di dalam kelas. Sementara peserta didik didorong untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing, pendidik disini masih perlu untuk memberikan bimbingan mengenai keterampilan yang perlu diperoleh. Pendidik dapat membuat oin penting untuk membantu peserta didik memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat dikembangkan di kehidupan mereka. Peserta didik akan jauh lebih termotivasi sesuatu yang dapat mereka lihat manfaatnya dan nilainya. Pendidik perlu mengajar dan melatih peserta didik  keterampilan yang berguna pada situasi apapun. Pelajaran tidak memiliki makna dan tujuan jika tidak berdampak pada kehidupan siswa di luar sekolah.

4) Sekolah terintegrasi dengan masyarakat

Dengan kekuatan pemberdayaan teknologi dan internet, peserta didik saat ini bisa melakukan banyak hal. Komunitas yang ada tidka hanya lagi mencakup pada area yang terletak pada lingkungan sekolah, bahkan menjangkau seluruh dan menyelimuti dunia. Pendidik perlu membantu peserta didik dalam mengambil bagian dalam komunitas global ini dan menentukan cara agar yang berdampak lebih dari sekedar lingkungan mereka berada. Untuk mempersiapkan peserta didik agar menjadi warganegara yang bertanggung jawab, sekolah perlu mendidik peserta didik menjadi warga yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan komunitas sekolah, siswa didorong untuk mengambil bagian dalam kegiatan atau proyek tersebut, dan sesekali membantu masyarakat di sekitar mereka dengan kegiatan sosial yang beragam.

Kemajuan bidang teknologi juga berdampak negatif pada perubahan sikap, perilaku dan karakter peserta didik. Diantara banyak masalah mengenai teknologi, seperti halnya kecanduan internet dan malas belajar akibat game online dan menonton, kehilangan waktu bermain dengan anak seusianya karena lebih fokus pada perangkat digital, enjadikan kurang seimbanganya kehidupan sosial anak, bahkan bisa berpotensi menurunkan prestasi akademik. Disinilah seorang pendidik memegang peran penting dalam pembentukan karakter dalam era revolusi industri 4.0. Pendidik harus bersinerge dengan wali murid dalam pemanfaatan teknologi. Pendidik tidak hanya diharapkan mentrasfer ilmu pegetahuan tetapi lebih dari itu pengembangan sikap dan spiritual sehingga akan tercipta keseimbangan kompetensi intelektual dengan kompetensi sikap dan spiritual. (Penulis : Nia Safitri)

Data Sekolah

SD Plus Muhammadiyah Sungai Penuh

NPSN : 347446868

Jl. Jenderal Ahmad Yani, Dusun Baru
KEC. Sungai Bungkal
KAB. Sungai Penuh
PROV. Jambi
KODE POS 37111
TELEPON 085369654508
FAX 0724-1234567
EMAIL sdplusmuhammadiyahspn@gmail.com

Maps Sekolah